HeadlineNews

Kanwil Kemenag Jatim Jadi Rujukan Delegasi BARMM Filipina dalam Pengelolaan Madrasah

JATIM.PUSARAN.ONLINE – Madrasah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk terus berkembang, tidak hanya dari pemerintah melalui Kementerian Agama sebagai pengelola pendidikan madrasah, tetapi juga dari guru, kepala madrasah, peserta didik, dan orang tua. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti perguruan tinggi, lembaga pelatihan, organisasi masyarakat, serta stakeholder lainnya juga diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Timur, Sugiyo, yang mewakili Kepala Kanwil Kemenag Jatim, saat menerima kunjungan delegasi Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, di Aula Kanwil Kemenag Jawa Timur, Jumat (24/7).

Delegasi BARMM terdiri atas perwakilan Ministry of Basic, Higher and Technical Education (MBHTE) melalui Directorate General of Madaris Education (DGME), Ittihadul Madaris Bil Philippines Inc. (IMBPI), dan Office of MP Gayak. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program benchmarking untuk mempelajari pengelolaan pendidikan madrasah di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Kepala Bidang Pendma, Sugiyo menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus mengucapkan terima kasih atas kunjungan delegasi BARMM ke Kanwil Kemenag Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sistem pendidikan madrasah yang telah berkembang mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Selain madrasah negeri dan swasta, terdapat pula madrasah yang telah bertaraf internasional dan menjalin kerja sama dengan berbagai negara. Ia juga memperkenalkan sejumlah madrasah berprestasi di Jawa Timur, salah satunya MAN 2 Kota Malang, yang dikenal memiliki berbagai capaian di tingkat nasional maupun internasional dan menjadi salah satu wajah kemajuan madrasah Indonesia.

Perwakilan IMBPI Bangsamoro, Maulvi Nieto, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan Kanwil Kemenag Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan mempelajari praktik-praktik terbaik penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan madrasah di Indonesia sebagai bahan pengembangan sistem pendidikan madrasah di Bangsamoro.

“Kami datang untuk melakukan benchmarking dan melihat secara langsung implementasi pendidikan serta pengelolaan madrasah. Kami ingin memahami bagaimana pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga dapat bekerja sama membangun sistem pendidikan Islam yang berkualitas,” ungkapnya.

Maulvi menjelaskan bahwa Bangsamoro telah melalui perjalanan panjang selama lebih dari lima dekade sebelum tercapainya perjanjian damai yang melahirkan pemerintahan otonom BARMM pada tahun 2019. Salah satu fokus utama pembangunan pascaperdamaian adalah memperkuat pendidikan madrasah sebagai bagian dari identitas masyarakat Bangsamoro.

Perjuangan masyarakat Bangsamoro kini berfokus pembangunan sosial melalui pendidikan. Oleh karena itu, madrasah menjadi salah satu sektor strategis yang terus dikembangkan agar mampu melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, serta berkontribusi bagi perdamaian.

Senada dengan itu, perwakilan Chief Curriculum Division MBHTE-DGME, Mohtar H. Salik, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan Kanwil Kemenag Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa pendidikan madrasah di Bangsamoro masih menghadapi berbagai tantangan sebagai dampak sejarah kolonial dan diskriminasi terhadap pendidikan Islam. Setelah tercapainya perjanjian damai pada tahun 2019, pemerintah Bangsamoro terus berupaya mengejar ketertinggalan melalui penguatan sistem pendidikan madrasah.

Indonesia menjadi salah satu rujukan utama karena berhasil mengembangkan sistem madrasah yang mampu menyeimbangkan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum. Oleh sebab itu, pihaknya berharap kolaborasi dengan Indonesia dapat mendukung pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan kelembagaan madrasah di Bangsamoro.

Kabid Pendma Kanwil Kemenag Jatim, Sugiyo menjelaskan peningkatan mutu madrasah di Indonesia juga didukung oleh berbagai program pengembangan kompetensi guru dan kepala madrasah.

“Kami memiliki Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai wadah guru untuk saling belajar dan meningkatkan kompetensi. Ada juga Kelompok Kerja Kepala Madrasah (KKM) yang menjadi forum berbagi praktik baik dalam pengelolaan madrasah,” ujarnya.

Selain itu, peserta didik didorong mengembangkan potensinya melalui berbagai kompetisi, seperti Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI), riset, pramuka, robotik, seni banjari, hingga berbagai kegiatan kesiswaan yang membentuk karakter dan akhlak. Menurutnya, berbagai program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas internal madrasah, tetapi juga memperkenalkan madrasah kepada masyarakat luas.

Saat ini BARMM memiliki lebih dari 1,200 madrasah formal dan non formal, yang melayani lebih dari 164 ribu peserta didik, namun baru sebagian yang memiliki izin operasional resmi. Banyak madrasah nonformal masih menggunakan kurikulum masing-masing dan belum mendapatkan pembinaan secara optimal. Karena itu, Indonesia dipandang sebagai rujukan yang tepat untuk mempelajari pengembangan kurikulum, tata kelola madrasah, serta pemberdayaan kelembagaan.

Selama berada di Indonesia, delegasi dijadwalkan melakukan kunjungan ke Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Nahdlatul Ulama, serta EQUIC Malang untuk mempelajari praktik-praktik terbaik dalam pengembangan kurikulum, pengelolaan kelembagaan, kemitraan, hingga pemberdayaan ekonomi madrasah.

Turut hadir dari Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha, Pembimas Kristen, dan Ketua Tim dari Bidang Pendma.

Related Posts

1 of 32